Rabu, 11 Maret 2015

Ternyata tak sesederhana apa yang dibayangkan...



Kasuari mulai menyadari bahwa semua beban yang ditanggung oleh sang Elang yang merupakan salah satu guru favoritnya itu sangatlah berat untuk dipikul seorang diri pada pundaknya yang tak kuat menahan beban pelik yang selalu menimpa serangan psikologis dari berbagai beberapa burung senior lainnya. Pantas saja kala itu sang elang yang begitu kuat dan tegar mulai menderukan tetasan air murni tanda ketulusan yang begitu saja  mengalir dari mata yang mulai berubah warna menjadi kemerahan. Begitu gundah hati kasuari, resah, dan ingin sekali untuk menggenggam erat jemari sang elang dengan mengatakan “semua kan baik saja, kami berada dipihak anda, kamipun merasakan hal yang sama”, namun hati kasuari terelak dan membisikkan bahwa kasuari harus sadar dan tau batasan-batasan antara seorang guru dan siswa. Cerita itu terucap tanpa henti, bagaikan luapan emosi, luapan segenap perasaan terpendam yang entah kepada siapa luapan-luapan itu akan diutarakan.
            Cerita itu merupakan cerita masa lalu kasuari saat berada ditahun ketiga akademik ketiga. Saat itu adalah tahun terakhir dimana kasuari akan mengakhiri masa belajarnya diakademik ketiga yang merupakan akademik yang menyimpan cerita hidup yang berbukit dan cerita studi yang miris.... sampai saat ini cerita itu masih selalu menempati ruang tersendiri dalam ingatan. Konflik yang terjadi antara sesama pengajar yang selalu mengambing hitamkan para siswa. Ah mungkin itu hanya perasaan para siswa yang merasa dirinya dikambing hitamkan, tetapi entahlah hati seseorang tiada yang dapat mengerti. Konflik itu cukup hebat, cukup untuk mengentarkan aliran semangat dan menggoyahkan pikiran siswa yang notabene masih membutuhkan bimbingan dari para pengajarnya. “Apa yang mereka pikirkan? Apakah mereka hanya mengutamakan rasa egois dari dirinya masing-masing tanpa berfikir dampak yang akan terjadi dengan akademik ini?”
            Masa kepedihan itu berlanjut hingga tak ada yang dapat memenangkan perselisihan ini, sampai saatnya siswa tahun ketiga menyelaikan studinya pun para pengajar belum bisa menyelesaikan konflik tersebut hingga akhirnya satu persatu mereka terbang tanpa ada alasan yang jelas untuk menghadapi masalah ini. Yah memang sampai saat ini siswa termasuk kasuari masih beranggapan bahwa mereka tidak memiliki tanggung jawab dan keberanian untuk menghadapi masalah ini dan hanya pergi melarikan diri untuk memenuhi rasa keegoisan dalam dirinya.
            Saat ini kasuari mengalami kondisi yang sama persis dengan sang Elang. Kasuari berada ditengah-tengah antara kiri dan kanan, timur dan barat. Hati kasuari menyatakan betapa pedihnya jika berada di posisi ini ketika dirinya sendiri tak dapat melakukan apa-apa sementara pandangan orang lain tertumpu tajam pada kasuari. Kasuari selalu bertanya “bagaimana menyelesaikan persoalan pelik ini? Akankah diriku hanya melarikan diri dan membiarkannya begitu saja dan berlalu tanpa meninggalkan goresan jalan pemecahan yang menjadi titik cerah untuk membuat mereka kembali tersenyum dan bertegur sapa satu sama lain?”
            “Sungguh ini melelahkan, ketika dirimu menjadi patung, siap menjadi penguat dan menghiasi suatu taman yang indah apabila patung tersebut mengambil posisi yang tepat, namun akan dihancurkan dan akan dilupakan apabila posisi tersebut hanya akan merusak pemandangan.”
Hari-hari berlalu, tiada cerita yang mudah diungkapkan. Dan seperti bom waktu yang kini mulai meledak satu persatu. Sekeras apapun kasuari mencoba untuk menghiburnya, memberi seyuman diwajahnya, mengikuti segala aktivitasnya, dan semua yang dapat membuat kedekatan itu terjadi kembali ternyata hanya sia-sia. Entah apa yang dirasakan oleh sebelah pihak, kini ia tak mau berbicara dengan kasuari dengan alasan yang jelas. Tentu saja ini membuat kasuari terhenyak sejenak. Tanpa fikir panjang kasuari selalu membujuknya agar bisa menjalin hubungan seperti sedia kala walaupun ia telah diberi teguran keras untuk menjauh darinya. Berulang kali kasuari meminta maaf, kasuari sadar mungkin memang ada kesalahan yang tak sengaja dan tak sadar ia lakukan yang menyebabkan rekannya bersikap seperti ini.
Kasuari kini mulai menjauh, namun dalam benak kasuari ia tak ingin melakukan tindakan ini dan terus berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang tak tentu arahnya. “ah.... keadaan semakin rumit. Untuk saat ini membiarkannya untuk menikmati kesendiriannya itu mungkin bisa menjadi celah menuju cahaya indah”.
Cerita ini ternyata tak sesederhana apa yang dibayangkan................... 


        Mif
11 Maret 2015