Kasuari
mulai menyadari bahwa semua beban yang ditanggung oleh sang Elang yang
merupakan salah satu guru favoritnya itu sangatlah berat untuk dipikul seorang
diri pada pundaknya yang tak kuat menahan beban pelik yang selalu menimpa
serangan psikologis dari berbagai beberapa burung senior lainnya. Pantas saja
kala itu sang elang yang begitu kuat dan tegar mulai menderukan tetasan air
murni tanda ketulusan yang begitu saja mengalir dari mata yang mulai berubah warna
menjadi kemerahan. Begitu gundah hati kasuari, resah, dan ingin sekali untuk
menggenggam erat jemari sang elang dengan mengatakan “semua kan baik saja, kami
berada dipihak anda, kamipun merasakan hal yang sama”, namun hati kasuari
terelak dan membisikkan bahwa kasuari harus sadar dan tau batasan-batasan
antara seorang guru dan siswa. Cerita itu terucap tanpa henti, bagaikan luapan
emosi, luapan segenap perasaan terpendam yang entah kepada siapa luapan-luapan
itu akan diutarakan.
Cerita itu merupakan cerita masa
lalu kasuari saat berada ditahun ketiga akademik ketiga. Saat itu adalah tahun
terakhir dimana kasuari akan mengakhiri masa belajarnya diakademik ketiga yang
merupakan akademik yang menyimpan cerita hidup yang berbukit dan cerita studi
yang miris.... sampai saat ini cerita itu masih selalu menempati ruang
tersendiri dalam ingatan. Konflik yang terjadi antara sesama pengajar yang
selalu mengambing hitamkan para siswa. Ah mungkin itu hanya perasaan para siswa
yang merasa dirinya dikambing hitamkan, tetapi entahlah hati seseorang tiada
yang dapat mengerti. Konflik itu cukup hebat, cukup untuk mengentarkan aliran
semangat dan menggoyahkan pikiran siswa yang notabene masih membutuhkan
bimbingan dari para pengajarnya. “Apa yang mereka pikirkan? Apakah mereka hanya
mengutamakan rasa egois dari dirinya masing-masing tanpa berfikir dampak yang
akan terjadi dengan akademik ini?”
Masa kepedihan itu berlanjut hingga
tak ada yang dapat memenangkan perselisihan ini, sampai saatnya siswa tahun
ketiga menyelaikan studinya pun para pengajar belum bisa menyelesaikan konflik
tersebut hingga akhirnya satu persatu mereka terbang tanpa ada alasan yang
jelas untuk menghadapi masalah ini. Yah memang sampai saat ini siswa termasuk
kasuari masih beranggapan bahwa mereka tidak memiliki tanggung jawab dan
keberanian untuk menghadapi masalah ini dan hanya pergi melarikan diri untuk
memenuhi rasa keegoisan dalam dirinya.
Saat ini kasuari mengalami kondisi
yang sama persis dengan sang Elang. Kasuari berada ditengah-tengah antara kiri
dan kanan, timur dan barat. Hati kasuari menyatakan betapa pedihnya jika berada
di posisi ini ketika dirinya sendiri tak dapat melakukan apa-apa sementara
pandangan orang lain tertumpu tajam pada kasuari. Kasuari selalu bertanya
“bagaimana menyelesaikan persoalan pelik ini? Akankah diriku hanya melarikan
diri dan membiarkannya begitu saja dan berlalu tanpa meninggalkan goresan jalan
pemecahan yang menjadi titik cerah untuk membuat mereka kembali tersenyum dan
bertegur sapa satu sama lain?”
“Sungguh ini melelahkan, ketika
dirimu menjadi patung, siap menjadi penguat dan menghiasi suatu taman yang
indah apabila patung tersebut mengambil posisi yang tepat, namun akan
dihancurkan dan akan dilupakan apabila posisi tersebut hanya akan merusak
pemandangan.”
Hari-hari
berlalu, tiada cerita yang mudah diungkapkan. Dan seperti bom waktu yang kini
mulai meledak satu persatu. Sekeras apapun kasuari mencoba untuk menghiburnya,
memberi seyuman diwajahnya, mengikuti segala aktivitasnya, dan semua yang dapat
membuat kedekatan itu terjadi kembali ternyata hanya sia-sia. Entah apa yang
dirasakan oleh sebelah pihak, kini ia tak mau berbicara dengan kasuari dengan
alasan yang jelas. Tentu saja ini membuat kasuari terhenyak sejenak. Tanpa
fikir panjang kasuari selalu membujuknya agar bisa menjalin hubungan seperti
sedia kala walaupun ia telah diberi teguran keras untuk menjauh darinya.
Berulang kali kasuari meminta maaf, kasuari sadar mungkin memang ada kesalahan
yang tak sengaja dan tak sadar ia lakukan yang menyebabkan rekannya bersikap
seperti ini.
Kasuari
kini mulai menjauh, namun dalam benak kasuari ia tak ingin melakukan tindakan
ini dan terus berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang tak tentu arahnya.
“ah.... keadaan semakin rumit. Untuk saat ini membiarkannya untuk menikmati
kesendiriannya itu mungkin bisa menjadi celah menuju cahaya indah”.
Cerita
ini ternyata tak sesederhana apa yang dibayangkan...................
Mif
11 Maret 2015