Merpati Kasuari
Tanpa kita sadari,
alam selalu memberi apa yang diinginkan dalam suatu rasa kedamaian cita, cinta,
dan harapan. Nyanyian dan gurauan alam selalu menghiasi canda, tawa, tangis,
kesedihan setiap insan di muka bumi bersama dengan gelagat waktu yang tiada
henti berputar mengikuti rotasi dan revolusi ditempat yang kita jadikan
sandaran, kehidupan, berpijak, dan hidup untuk menjalankan kehidupan yang tidak
bisa dipungkiri bahwa inilah yang harus kita jalani. Yah, inilah hidup mau
tidak mau kita harus mempunyai tujuan untuk menjalani kehidupan yang terkadang
terasa berat dan lelah untuk dihadapi. Jatuh bangun membangun kehidupan tak
terlepas dari berbagai kisah misteri yang menjadi momok bagi tokoh pelaku
kehidupan bagaikan dikejar oleh sesuatu yang membuatnya takut, takut untuk
mengadapi kehidupan selanjutnya yang sebenarnya kehidupan tersebut belum
sepenuhnya terungkap dari berbagai asumsi dan opini yang membuatnya semakin
bingung, bingung kemana ia harus melangkahkan kakinya, bingung bagaimana ia
harus bertindak, dan bingung bagaiamana ia harus berfikir. Pelbagai teka-teki
dunia yang dijalani tak semudah berkedip untuk dipecahkan. Begitu banyak kisah
dan cerita yang selalu memberi rasa pada setiap kehidupan yang telah dijalani.
“Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan”, tiga waktu berbeda dengan cerita
yang berbeda pula, entah itu asam, manis, pahit. Ada suatu kisah yang melampaui
dua batas waktu, masa lalu dan masa sekarang. Cerita yang merupakan suatu
pengalaman tak terlupakan.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
 |
|
|
 |
|
Seekor merpati sedang
mendekat, entah apa yang ada dalam fikirnya. Merpati tersebut terlihat begitu
misterius, tak ada yang bisa menebak apa yang ada dalam benaknya. Kenyataannya
merpati tersebut memang mempunyai suatu pesona tersendiri dimana hati dan
fikiran bisa berhaluan arah dan tak sejalan sehingga membuat suatu keputusan
harus difikir beribu-ribu kali agar penyesalan tidak akan pernah terjadi dalam
cerita misteri kehidupan.
Merpati tersebut
merupakan cerita masa lalu, dimana merpati tersebut masih menjadi merpati kecil
yang lucu dan tak berpesona yang tidak pernah kasuari lupakan. Ada suatu masa
dimana kasuari mengalami suatu ketakutan yang mengguncang tubuhnya,
sampai-sampai kulit dari tubuhnya bergetar dan lemah karena ketakutan tersebut
sudah merasuki fikiran dan batin kasuari. Bak air segar di padang pasir tandus
yang mencekam, tiba-tiba merpati tersebut datang membantu kasuari, mengusir
rasa takut kasuari, dan menolongnya untuk menggapai apa yang akan kasuari
perbuat sebelum ketakutan itu datang. Saat itu hati kasuari serasa hampa, ketakutan
itu mulai hilang, rasa takut itu mulai tergantikan dengan perasaan yang dirinya
sendiri tidak mengetahui perasaan apa yang dirasakannya. Namun saat itu mereka
belum dapat terbang, mereka hanya dua ekor burung kecil yang akan menghadapi
dunia mereka sendiri. Mereka belum dapat mengetahui apa itu rasa, apa itu kasih
dan apa itu sayang. Mereka hanya mencoba berlatih dan berlatih untuk dapat
terbang dan menghadapi badai untuk menggapai berbagai angan dan tujuan.
Saat itu, mereka
berada disuatu akademik yang sama yaitu akademik dasar untuk para burung, namun
seiring berjalannya waktu enam tahun kemudian mereka berpisah untuk menemukan
apa yang ingin mereka gapai. Dan tentunya enam tahun tersebut tidak berjalan
begitu saja, banyak kisah yang mereka lewati bersama, bersenang-senang melalui
masa kanak-kanak mereka, berbagi canda tawa dan melewati batas ambang naluri
merpati dan kasuari. Ada suatu kisah disaat mereka sedang melakukan
persiapan untuk ujian terbang, tiba-tiba sang merpati datang dengan tubuh yang
diselimuti dan wajah tertutup. Tentu saja hal itu tidak membuat sang kasuari
terdiam karena hatinyapun merasa tergelitik untuk mengungkap apa yang berada
dibalik penutup wajah sang merpati, dengan rasa usil kasuari, dibuka
sesuatu yang menutupi wajah merpati, dan saat itu kasuari sontak terkejut dan
sedikit terdiam. Tak terasa gelak tawa keluar dari paruh kasuari, ia ingin
menahannya tapi dirinya sendiri tak sadar untuk melepaskannya. Hahahaha
ternyata merpati kecil sedang terkena wabah dimana jika ia merasa tubunya
dingin maka wajah sang merpati akan memerah dan sedikit mengembang. Fikran sang
kasuari mengatakan wajahnya begitu lucu seperti balon merah yang bersiap untuk
meletup. Dan dibalik wajah merpati tersimpan senyuman tersipu malu karena ada seseorang
yang begitu gembira dengan keadaannya.
Dan waktu itupun
berlalu sang merpati tetap berada di pohon yang membantunya untuk tumbuh dan
berkembang, sedangkan kasuari pergi ketempat dimana orang tuanya menyarankan
untuk menemukan jati diri bersama burung sejenisnya. Saat itu kasuari tak lagi
dapat bersama dengan sang merpati, namun saat kasuari kembali kesarang
kelahiranya untuk sementara waktu, ia sering mencuri-curi pandang untuk melihat
merpati saat merpati pergi ke akademiknya. Hanya sekedar melihat dan bertukar
senyuman dibalik jendela sarang kasuari. Anehnya saat itu merpati belum banyak
berubah, penampilannya tetap sama, sama seperti dulu saat tubuhnya kecil dan
lucu.
Satu tahun berlalu,
orang tua kasuari memutuskan untuk menarik kembali kasuari kesarang
kelahirannya dan akademik pertamanya dipindahkan ke sebelah akademik merpati.
Alasan orang tua kasuari memindahkakannya karena kasuari sendiri tidak mendapat
kemajuan dan hanya meninggalkan tetes air mata. Selain itu orang tuanya meminta
kasuari untuk membantu memperbaiki sistem dan susunan akademik yang kebetulan
akademik tersebut diketuai oleh ayah kasuari dan ditunjang oleh kepribadian
kasuari yang lumayan cerdas. Seiring berjalannya waktu ternyata kasuari tidak
mampu untuk memperbaiki sistem akademik, dirinya semakin terpuruk karena ia
salah memilih rekan sesama burung. Dirinya bersikap bebas, tanpa memperhatikan
bahwa ia adalah anak dari ketua akademik yang seharusnya membantu untuk
meningkatkan mutu akademik, walaupun nilainya tidak pernah turun, tapi sikap
kasuari banyak mengalami pertentangan-pertentangan dari jenis lain.
Namun disamping itu
sang merpati tiba-tiba muncul dari peraduannya dan memberikan suatu sikap yang
tidak pernah kasuari bayangkan. Sang merpati selalu memberikan kasuari surat
walaupun dengan melalui seseorang perantara dari rekan sekaligus sahabat dari
kasuari. Dan kasuaripun selalu membalas surat tersebut melalui perantara yang
sama. Saat itu kasuari masih berada pada tahun pertamanya di akademik pertama.
Kasuari mencoba
membuka perlahan surat tersebut dengan perasaan yang gembira, senang, dan tak
bisa diungkapkan oleh kata-kata. Di dalam surat tersebut terdapat tiga untaian
kata yang yang tak bisa kasuari pahami. Ia bingung untuk membalasnya dengan
untaian kata apa yang ia bisa ungkapkan dan memtuskan untuk menjawabnya dua
tahun kemudian disaat mereka berada di tahun ketiga akademik pertama. Setelah
surat terakhir tersebut mereka jarang melakukan kontak dan komunikasi yang
istilahnya “lost contact”.
Ditahun kedua
akademik pertama, kasuari mulai menyadari apa itu disayangi dan dikasihi namun
belum mengetahui apa itu cinta. Kasuari mulai menyukai untuk selalu
diperhatikan oleh lawan jenisnya. Dan itu menjadi titik lemah dari kasuari,
dimana ia mulai tidak berfokus untuk meningkatkan prestasi di dalam akademik.
Karena hal tersebut, banyak kekecewaan yang timbul dari sikap yang kasuari
lakukan. Kekecewaan itu kemudian membuat kasuari bangkit, bangkit dari
keterpurukan, bangkit dari rasa yang selalu membuat orang disayanginya kecewa.
Ditahun ketiga
akademik pertama, semua berjalan dengan baik. Kasuari mulai mengalami
banyak peningkatan dengan mempelajari kesalahan yang telah ia perbuat ditahun
lalu. Dan ternyata merpati tidak lupa akan janji sang kasuari yang akan
menjawab pertanyaan dari sepucuk surat kecil yang ia tulis ditahun pertama.
Merpati juga mengatakan bahwa ia selalu memperhatikan perkembangan kasuari di
tahun kedua, dan seperti dugaan kasuari, merpati juga merasa kecewa karena
kasuri menerima perhatian orang lain daripada perhatian merpati. Untuk menebus
kesalahannya dan berniat untuk tidak mengulanginya lagi, akhirnya kasuari
menerima merpati untuk menjadi pasangannya. Waktu berjalan terus, kasuari
merasa bahagia bersama merpati….
Namun hal itu tidak berlangsung
lama, merpati ternyata mulai bersikap apatis terhadap kasuari. Kasuari sendiri
tidak mengetahui sebab apa ia berperilaku demikian. Setelah tiga bulan berjalan
dengan banyak konflik dengan merpati, akhirnya dia memutuskan untuk berpisah
dengan kasuari. Saat itu kasuari tak terlalu merasakan kepedihan dan kesedihan
yang mendalam, ia hanya dapat menerima semua yang terjadi dengan tangan terbuka
karena ia sadar bahwa mungkin memang mereka belum ditakdirkan untuk bersama.
Beberapa hari berlalu
tanpa kabar dari merpati, kasuari mulai fokus mempersiapkan diri untuk melewati
ujian akademik pertama agar bisa melanjutkan ke akademik menengah. Waktunya
digunakan untuk belajar dan bersenang-senang bersama keluarga dan
teman-temannya. “Walaupun tak bersama merpati akupun dapat bahagia” fikir
kasuari. Kasuari tak lagi merasakan apa yang pernah ia rasakan sebelumnya
bersama seekor merpati yang dimasa lalu telah banyak menolongnya dan membuatnya
tertawa hingga serasa duniapun ikut terguncang. Disaat kasuari mulai melupakan
sang merpati, saat itu juga kasuari tersadarkan oleh gurauan dari salah satu
temannya bahwa merpati memutuskan hubungan dengan kasuari karena ingin bersama
dengan rekan, tapi lebih tepatnya salah satu sahabat kasuari yang pernah
menjadi perantara dari permainan surat disaat tahun pertama kasuari di akademik
pertama. Hatinya tertegun, rasanya menjadi sesak tak karuan, entah mengapa
keadaan tersebut membuatnya tidak nyaman, membuat lemah tak berdaya merasa
kepedihan yang amat mendalam. Ingin rasanya kasuari membuktikan sendiri apa
yang ia dengar dan tidak hanya mendengarkan suatu spekulasi yang tidak menentu
arahnya. Selidik punya selidik ia lakukan untuk membuat perasaan menjadi
tenang. Dan semakin kasuari telusuri ternyata kenyataan itu begitu pahit, benar
yang dikatakan oleh teman sejenisnya bahwa merpati secara diam-diam menyukai
sahabat dari kasuari tanpa memikirkan sedikit perasaan sang kasuari. Kini
hubungan kasuari dan sahabat perantara surat tak lagi terjalin seperti dulu,
kasuari mulai menjauhinya, ia sendiri bingung mengapa menjauhinya yang
nyatanya bahwa merpatilah yang seharusnya disalahkan atas kejadian ini. Tidak
mungkin kasuari menyalahkan sahabatnya karena dia memiliki paras lebih indah
dibanding dengan kasuari. Rasa pedih itu tak pernah hilang, kepedihan tersebut
telah menggores luka dihati kecil milik kasuari.
Singkat cerita,
setelah lulus dari ujian akademik pertama, kasuari mulai melupakan semua
kejadian tersebut dengan merasa bangga atas prestasi yang telah ia raih. Ia
mendapat gelar juara umum di akademiknya, sehingga membuat orang yang
dikasihinya merasa bahagia dan kasuari sendiripun merasa berguna, tidak
berfikir lagi bahwa ia hanya sesosok “troble maker” dalam misteri hidupnya. Dan
ternyata masalah tersebut mendewasakannya untuk tidak mengambil langkah yang
salah seperti ditahun kedua. Sekarang kasuari berpikir akan melanjutkan
akademik menengahnya dengan harapan bisa menjauh dari sahabat dan merpati. Akan
tetapi semua tak sejalan dengan apa yang ia harapkan. Orang tuanya menyarankan
agar kasuari melanjutkan akademik menengahnya di satu lokasi dengan akademik
pertama yang telah menjadi saksi bisu atas kisah-kisah masa lalu kasuari. Tentu
kasuari menolaknya karena di akademik menengah tersebut sahabatnya akan
melanjutkan akademik menengah. Tapi takdir berkata lain, lambat laun kasuari
tak bisa mengelak dari apa yang telah dikatakan orang tuanya.
Kasuari mulai
menjalaninya dengan rasa sabar, ikhlas, dan tawakkal. Semua yang kasuari
lakukan semata-mata untuk membalas segala budi baik orang tuanya yang merawat
dari kecil hingga saat ini dan memang ini yang menjadi tujuan hidup dari
kasuari untuk terus membuat bahagia orang-orang yang ia sayangi. Setelah
memerlukan beberapa waktu dimana waktu tersebut terus berputar tanpa henti yang
akan membuat alur kehidupan baru bagi makhluk yang menjalaninya, kasuari dan
sahabat perantaranya mulai menjalin hubungan baik seperti dulu sebelum adanya
cerita tentang merpati. Mungkin ini adalah hikmah yang dapat ia petik dari
kesungkanan yang pernah ia ragukan dan dapat membuatnya mengalami kegagalan.
Mereka menjadi bersahabat lagi dan menjalani hari-hari bersama walaupun
terkadang merpati melakukan komunikasi yang tersembunyi dengan sahabatnya
seakan-akan menuutupi segala yang kasuari ketahui tentangnya. Hal itu tidak
membuat kasuari marah ataupun geram, dirinya sudah menyadari betapa pentingnya
sahabat dibandingkan dengan pasangan yang selalu meninggalkan luka tanpa adanya
rasa empati dalam dirinya. Entah kasuari bodoh karena tetap bersahabat dengan
sahabatnya yang nyatanya telah mengambil cinta sejati dalam hatinya serta
meninggalkan sepercik luka yang dapat menyebar dengan cepat atau kasuari
mengambil suatu kebijakan yang dapat membuatnya lebih berguna dan bermanfaat
tapi tidak untuk dimanfaatkan.
Setelah tiga tahun
berlalu di akademik menengah, kasuari tidak pernah lagi mendengar merpati
berhubungan dengan sahabatnya lagi. Sekarang sahabat kasuari sudah menemukan
pasangan baru dan merpati juga sudah memiliki pasangan yang secara diam-diam
kasuari selidiki. Bagaimanapun perasaan itu harus hilang walaupun kasuari tak
dapat membendungnya dengan seiring berjalannya waktu. Tak lagi kasuari berfikir
merpati kembali kepadanya. Tak terlintas dalam benak kasuari merpati akan
berbicara kepadanya lagi.
Hari ini adalah hari
dimana kasuari memasuki jenjang selanjutnya dari akademik menengah. Hari ini ia
masuk ke salah satu akademik tinggi di kota besar meninggalkan seluruh kenangan
yang tersimpan di sarang kelahirannya. Kasuari bahagia bisa melupakan semua yang
pernah hadir dalam hidupnya, walaupun hanya berpura-pura lupa akan pahit
manisnya cerita muda yang pernah menerbangkan hatinya dan menjatuhkan dari
impian tidur manisnya.
“Hidup baru, teman
baru, tempat baru” itu yang ia fikirkan. Namun lagi-lagi takdir berkata lain.
Ternyata sang merpati melanjutkan akademik tinggi di satu tempat yang sama
dengan kasuari. Hal ini membuat kasuari bertanya-tanya, “kisah apa lagi yang
akan terjadi?”. Disatu sisi ia merasa senang, senang karena perasaan itu tidak
pernah hilang, disatu sisi lagi ia merasa sedih, “mengapa harus dia?” kasuari
memang telah melupakan merpati tapi tidak dengan perasaan yang telah kasuari
pendam selama ini. “akankah aku merasakan kepedihan kembali? Ataukah ini
merupakan suatu tantangan bagaimana sang pencipta menguji keimananku?”.
Kemudian tak berapa
lama merpati tersebut mengajak kasuari terbang tinggi, terbang membawa angan
impian melintasi awan bersama langit biru yang terlihat begitu cerah dengan
hiasan cahaya yang membuat hati terasa bebas, lepas, dan….. Merpati menggenggam
erat tangan kasuari seakan tak ingin melepaskan dan tak ingin kasuari jatuh
lagi.
Merpati hadir dengan
membawa harapan baru bahwa kasuari masih memiliki satu kesempatan. Satu
kesempatan untuk menjalin suatu hubungan bersama namun bukan hubungan
percintaan tapi suatu hubungan persahabatan seperti pada saat enam tahun di
akademik dasar. Ataukah kasuari ini bodoh untuk tertipu berulang kali
dengan tipuan muslihat yang dibawa oleh merpati. Ditambah lagi sekarang merpati
membawa pesona yang luar biasa dibandingkan pada saat mereka berada di akademik
dasar.
Kedatangan merpati
membawa berbagai angin segar bagi kasuari ditambah lagi mereka tak terhalang
lagi oleh sahabat perantara. Komunikasi mereka terhubung kembali setelah
beberapa tahun mereka lewati dengan sikap apatis dan tidak peduli satu sama
lain yang nyatanya kasuari tetap perduli dari balik layar. Mereka mulai beradu
canda tawa, menaruh perhatian dan bersikap seakan-akan mereka sangat dekat dan
memang dekat. Tak lepas lagi bahwa merpati pernah mengatakan bahwa kasuari
adalah “first love” bagi merpati, dan kasuari pun demikian merpati adalah cinta
pertama dalam hidup kasuari. Tidak bisa dipungkiri dengan kalimat itu sayap
yang dulu merpati patahkan kini mulai tumbuh menjadi sayap-sayap baru yang
lebih indah.
Namun amat teramat
disayangkan, takdir selalu berkata lain. Disaat detik-detik sayap itu akan
sempurna untuk terbang, dengan kerasnya merpati mematahkan sayap ini dengan
harapan palsu yang selalu merpati bawa. Kali ini kasuari tersadar untuk
kesekian kalinya bahwasanya mereka bukanlah pasangan merpati, kasuari hanyalah
seekor kasuari yang selalu merindukan merpati untuk mengarungi langit biru
tanpa adanya badai yang menghadang sayap-sayap indah mereka.
Sayap kasuari telah
patah, hilang, lenyap dan memudar, tak ada lagi yang tersisa. Kini kasuari
hanya dapat berpijak di atas tanah tanpa mempunyai harapan untuk bisa kembali
terbang tinggi mengarungi betapa indahnya dunia. Kasuari selalu berdoa agar
merpati akan mendapatkan yang terbaik dari terbaik dan dapat terbang kemanapun
yang merpati inginkan. Kasuari akan selalu mengamati merpati yang terbang
tinggi dari bawah sini. Kasuari tidak bisa menghilangkan perasaan ini sampai
kapanpun. Kasuari mencintai merpati. Terimakasih merpati, terima kasih karena
merpati pernah membawa kasuari terbang tinggi, terimakasih sudah mengajarkan
dan memberi warna dari kisah-kisah kehidupan kasuari. Untuk yang terakhir kali
kasuari akan pergi meningggalkan merpati. Merpati harus bisa mendapat pasangan
dari merpati lain agar merpati bisa mengarungi langit biru bersamanya…….
Mif
25 Januari 2015