Fraktur Hepar
Cardiovaskuler
Ke-abnormalan antara atrium dan ventrikel yang terjadi dalam
cardio itu terulang lagi. Seakan-akan pembuluh darah arteri dan vena sudah tak
sanggup untuk menahan gejolak tetes demi tetes trombosit, leukosit, eritrosit
dan hemoglobin yang membanjiri seluruh tubuh. Sesak, sakit, berdebar,
seakan-akan ingin mengeluarkan sesuatu yang diluar dari kapasitas bersama
dengan harapan yang diluar kapabilitas pula. Yah ini bukanlah sesuatu yang bisa
didiagnosa oleh seseorang yang mayoritas fashionnya berjas putih, mengalungkan
stethoscope diatas tulang claviculanya, dan selalu ditemani oleh wanita maupun
pria yang berbaju putih pula dengan segala kesigapannya membawa map-map berisi
data pasien yang terpaksa check-in di bangsal-bangsal rumah sakit. Namun, ini
adalah sesuatu yang mungkin hanya bisa ditangani oleh seorang yang ahli dalam
bidang kejiwaan atau dengan kata lain adalah seseorang yang ahli dalam bidang
psikologis.
Akhir tanpa awal,
Percayakah?
Sesutu akan berakhir tanpa ada awal yang pasti? Rasanya pertanyaan itu membuat
orang lain merasakan sesuatu yang ambigu bahkan terdengar utopis. Jika Max
Weber yang notabenenya adalah salah seorang tokoh sosiologi menyatakan bahwa
untuk memahami sebuah makna maka dapat dilakukan pendekatan analisis tipe ideal
dan verstehen. Berbeda lagi konsep makna yang diutarakan oleh George Herbert
Mead dengan teori konstruksi makna pikiran (mind),
diri (self), dan masyarakat (society). Beralih kepernyataan “akhir
tanpa awal”, tiga kata yang jika didefenisikan: akhir adalah kesudahan, tanpa
adalah tidak dengan, dan awal adalah
permulaan, sehingga tak ada titik terang untuk menjelaskan secara gamblang apa
makna sebenarnya dari tiga kata tersebut. Apabila kalimat tersebut ditukar,
“awal tanpa akhir” tentunya ini akan lebih mudah untuk ditafsirkan. Contonya
saja kehidupan diakhirat, dimana yang dipercayai bahwa diakhirat kelak semua
orang akan kekal, awalnya adalah kematian dan akhirnya tak berkesudahan. Ini
menandakan bahwa kepercayaan tentang suatu hal yang tidak bisa dijelaskan namun
hanya bisa dirasakan bukanlah sebuah kebohongan ataupun sebuah pembenaran.
Mudah
Jatuh Cinta,
Sesaat
terlihat ada seseorang yang mengubah status bbm nya, eh bukan bahan bakar minyak
loh,,, blackberry messenger orang menyebutnya,,, dia berkata bahwa “jangan
jatuh cinta, tapi bangun cinta”, entah bangaimna mengonsepkan sebuah arti
cinta, karena setiap orang memiliki pandangan masing-masing tentang cinta. Nah,
mengenai bangun cinta, apa iya cinta bisa dibangun ketika cinta itu buta dan
tak bisa memilih? Menurut beberapa ahli kepolisme, cinta tumbuh dari rasa
nyaman saat bersamanya. Pengakuan itu
seakan kontras dengan beberapa film romantic yang menayangkan adegan dimana
ketika seorang lelaki yang selalu bersama seorang wanita baik di tempat kerja,
disekolah, dikampus, yang awalnya menjadi benci tiba-tiba menjadi sering
bersama dan akhirnya berubah menjadi kisah asmara. Kata lainya sih cinta
lokasi. Namun, pada era IT (information technology) saat ini, kebersamaan
bukanlah hal yang bisa dijadikan sebuah alibi untuk jatuh cinta. Munculnya
beberapa aplikasi yang memudahkan untuk berinteraksi, menjadi pemicu utama
untuk memunculkan buih-buih kenyamanan. Istilah kerenya “baper”. Dan tentunya,
IT ini tidak selalu berdampak positif. Banyak korban-korban baper yang telah
berjatuhan, niatnya Cuma bercanda, tegur sapa, perhatian teman, ramah, perduli,
dan lain sebagainya, tapi efeknya sangat luar biasa. Ada yang menafsirkan bahwa
itulah cinta, sayang, kasih, dan rindu. Beruntung bagi yang slow respon, celaka
bagi yang MUDAH JATUH CINTA.
Mudah
kecewa,
Diatas, dikatakan bahwa celaka bagi
yang mudah jatuh cinta, tentunya tulisan itu bukan tanpa alasan. Sebuah fakta
empiris dan bukan hanya sekedar spekulatif dari orang-orang yang doyan
berkomentar tanpa berpikir. Jatuh dan kecewa satu kali itu rasanya tak sepahit
empedu. Yang jadi rumit ketika jatuh dan kecewa itu layaknya hujan menghujam.
Banyak penyebab dari kekecewaan, entah itu karena janji yang tidak ditepati,
sumpah yang dibumbui kebohongan, tindakan tanpa tujuan, hasil yang tidak
menghargai proses, dan masih banyak lagi. Terdiam, teringat lagu yang dirilis
beberapa tahun yang lalu. Judulnya “baby doll”. Lirycnya “kau ajak ku melayang
tinggi dan kau hempaskan kebumi, kau permainkan sesuka hati lalu kau tinggal
pergi”. Waw,,, maknanya sangat sangat memilukan ketika kekecewaan itu sudah
masuk kedalam titik jiwa terdalam. Intinya kesedihan yang tak berkesudahan
salah satu faktor utamanya adalah rasa kecewa yang mendalam.
Kesimpulan: Cardiovaskuler menjadi tidak terarah, akhir tanpa awal yang
menyesakkan, mudah jatuh cinta menjadi tersangka utama, mudah kecewa yang harus
diterima, endingnya fraktur hepar menjadi sebuah konsekuensi. _TAMAT_
Mif
04 November 2016