Kamis, 03 November 2016

Bingkai Rasa 2

Fraktur Hepar

Cardiovaskuler
Ke-abnormalan antara atrium dan ventrikel yang terjadi dalam cardio itu terulang lagi. Seakan-akan pembuluh darah arteri dan vena sudah tak sanggup untuk menahan gejolak tetes demi tetes trombosit, leukosit, eritrosit dan hemoglobin yang membanjiri seluruh tubuh. Sesak, sakit, berdebar, seakan-akan ingin mengeluarkan sesuatu yang diluar dari kapasitas bersama dengan harapan yang diluar kapabilitas pula. Yah ini bukanlah sesuatu yang bisa didiagnosa oleh seseorang yang mayoritas fashionnya berjas putih, mengalungkan stethoscope diatas tulang claviculanya, dan selalu ditemani oleh wanita maupun pria yang berbaju putih pula dengan segala kesigapannya membawa map-map berisi data pasien yang terpaksa check-in di bangsal-bangsal rumah sakit. Namun, ini adalah sesuatu yang mungkin hanya bisa ditangani oleh seorang yang ahli dalam bidang kejiwaan atau dengan kata lain adalah seseorang yang ahli dalam bidang psikologis.

Akhir tanpa awal,
          Percayakah? Sesutu akan berakhir tanpa ada awal yang pasti? Rasanya pertanyaan itu membuat orang lain merasakan sesuatu yang ambigu bahkan terdengar utopis. Jika Max Weber yang notabenenya adalah salah seorang tokoh sosiologi menyatakan bahwa untuk memahami sebuah makna maka dapat dilakukan pendekatan analisis tipe ideal dan verstehen. Berbeda lagi konsep makna yang diutarakan oleh George Herbert Mead dengan teori konstruksi makna pikiran (mind), diri (self), dan masyarakat (society). Beralih kepernyataan “akhir tanpa awal”, tiga kata yang jika didefenisikan: akhir adalah kesudahan, tanpa adalah tidak dengan, dan awal adalah permulaan, sehingga tak ada titik terang untuk menjelaskan secara gamblang apa makna sebenarnya dari tiga kata tersebut. Apabila kalimat tersebut ditukar, “awal tanpa akhir” tentunya ini akan lebih mudah untuk ditafsirkan. Contonya saja kehidupan diakhirat, dimana yang dipercayai bahwa diakhirat kelak semua orang akan kekal, awalnya adalah kematian dan akhirnya tak berkesudahan. Ini menandakan bahwa kepercayaan tentang suatu hal yang tidak bisa dijelaskan namun hanya bisa dirasakan bukanlah sebuah kebohongan ataupun sebuah pembenaran.

Mudah Jatuh Cinta,
          Sesaat terlihat ada seseorang yang mengubah status bbm nya, eh bukan bahan bakar minyak loh,,, blackberry messenger orang menyebutnya,,, dia berkata bahwa “jangan jatuh cinta, tapi bangun cinta”, entah bangaimna mengonsepkan sebuah arti cinta, karena setiap orang memiliki pandangan masing-masing tentang cinta. Nah, mengenai bangun cinta, apa iya cinta bisa dibangun ketika cinta itu buta dan tak bisa memilih? Menurut beberapa ahli kepolisme, cinta tumbuh dari rasa nyaman saat bersamanya.  Pengakuan itu seakan kontras dengan beberapa film romantic yang menayangkan adegan dimana ketika seorang lelaki yang selalu bersama seorang wanita baik di tempat kerja, disekolah, dikampus, yang awalnya menjadi benci tiba-tiba menjadi sering bersama dan akhirnya berubah menjadi kisah asmara. Kata lainya sih cinta lokasi. Namun, pada era IT (information technology) saat ini, kebersamaan bukanlah hal yang bisa dijadikan sebuah alibi untuk jatuh cinta. Munculnya beberapa aplikasi yang memudahkan untuk berinteraksi, menjadi pemicu utama untuk memunculkan buih-buih kenyamanan. Istilah kerenya “baper”. Dan tentunya, IT ini tidak selalu berdampak positif. Banyak korban-korban baper yang telah berjatuhan, niatnya Cuma bercanda, tegur sapa, perhatian teman, ramah, perduli, dan lain sebagainya, tapi efeknya sangat luar biasa. Ada yang menafsirkan bahwa itulah cinta, sayang, kasih, dan rindu. Beruntung bagi yang slow respon, celaka bagi yang MUDAH JATUH CINTA.

Mudah kecewa,
          Diatas, dikatakan bahwa celaka bagi yang mudah jatuh cinta, tentunya tulisan itu bukan tanpa alasan. Sebuah fakta empiris dan bukan hanya sekedar spekulatif dari orang-orang yang doyan berkomentar tanpa berpikir. Jatuh dan kecewa satu kali itu rasanya tak sepahit empedu. Yang jadi rumit ketika jatuh dan kecewa itu layaknya hujan menghujam. Banyak penyebab dari kekecewaan, entah itu karena janji yang tidak ditepati, sumpah yang dibumbui kebohongan, tindakan tanpa tujuan, hasil yang tidak menghargai proses, dan masih banyak lagi. Terdiam, teringat lagu yang dirilis beberapa tahun yang lalu. Judulnya “baby doll”. Lirycnya “kau ajak ku melayang tinggi dan kau hempaskan kebumi, kau permainkan sesuka hati lalu kau tinggal pergi”. Waw,,, maknanya sangat sangat memilukan ketika kekecewaan itu sudah masuk kedalam titik jiwa terdalam. Intinya kesedihan yang tak berkesudahan salah satu faktor utamanya adalah rasa kecewa yang mendalam.

Kesimpulan: Cardiovaskuler menjadi tidak terarah, akhir tanpa awal yang menyesakkan, mudah jatuh cinta menjadi tersangka utama, mudah kecewa yang harus diterima, endingnya fraktur hepar menjadi sebuah konsekuensi. _TAMAT_

          Mif                                                     
   04 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar